To CELOTEH BINTANG ^_^

click to create your own

Minggu, 10 Juni 2012

Silaturrahmi Part II


Allah…
Tenangkan hati ini..
Berharap pertemuan kali ini akan lebih baik dari sebelumnya..
Mudahkan aku dalam berbicara yang baik-baik
Semoga ndak cengeng
Semoga kian ceria
Dan ada secercah harapan..

Bismillaaah…


*****



Sejak 2 hari yang lalu ketika undang silaturrahmi itu disampaikan ibu kepadaku, diri ini langsung memikirkan apa yang akan terajdi esok?
Akankah ada hal-hal yang tak diinginkan kan terjadi, cecarankah adari keluarganya atau sebuah kabar yang lebih baik yang akan menenagkan hati??
Tak ayalnya diri ini terus menerka-nerka. Ketakutan dan kegelisahan kian mebayang-bayangi diri. Alhasil membuat diri menjadi tak fokus akan tugas-tugas akhir di semester ini.

Allah…
Sungguh saat ini hanya Engkau yang dapat kuhampiri. Hanya Engkau yang dapat menenangkan gelisahnya hati ini.
Sholat Tahajud, hajat, dan istikoroh pun kerap dilakoni, tak tertinggal dhuhaku, semuanya demi tenangnya hati ini.


Ah, ternyata yang gelisah lagi galau tak hanya diriku. Ibu dan bapakku pun sepertiku. Namun, yang mereka gelisahkan bukan tentang apa yang akan dibicarakan. Mereka gelisah tentang apa yang akan dilakukan ketika silaturrahmi itu membuahkan hasil yang positif. Positif untuk dilangsungkannya pernikahanku di dekat bulan-bulan ini. Juni atau Juli. Yang sebenarnya bulan-bulan yang membutuhkan banyak biaya. Biaya untuk adikku masuk SMA. Biaya untuk ke jawa-yang isnyaAllah-keponakan ibu-anaknya bude-akan segera menikah. Dan jika pernikahanku juga dilangsungkan bersamaan dengan kedua hal itu, pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit. Lain dari itu ibu dan bapakku tak ada yang bekerja-meski tetap memiliki penghasilan dari aktivitas sampingannya yang mengajar mengaji. Namun, itu belum cukup untuk menutupi kebutuhan yang memerlukan biaya yang bisa dibilang cukup besar. Lalu dari mana biaya itu akan kami dapatkan?

Dari Allah, Diel (desahku dalam hati)

Sejujurnya aku sedih setiap mendengar rintihan ibu dan bapak akan hal itu.

Maafkan aku ya Bu, Pak…
Bukan maksudku untuk selalu menyusahkan kalian…


Namun, berkali-kali aku selalu meyakinkan mereka, bahwa akan ada jalan disetiap niat baik yang akan dilakukan..

Alhamdulillahnya ibu dan bapak adalah orang yang mengerti tentang agama. Sehingga tak mudah berputus asa dari Rahmat-Nya. Jadi merekapun selalu meyakinkan diri bahwa semua pasti ada jalannya..
Namun, tak jarang ketika hal itu terpikirkan kembali, jadi pada ngegalau lagi deehh. Dan aku mencoba untuk tetap tersenyum dan tertawa ketika sedang mebahasanya.. :D

Padahal aku yang paling GALAUUUU!!



*****



Hari ini, Ahad 27 Mei 2012, dimana undang silahturrahmi itu harus kupenuhi. Rasanya jantung ini berdebar lebih cepat dan suaranya pun kian menderang seolah gendering yang memikikan telinga si empunya.

Setelah aku selesai mengajar privat dibilangan kalimalang, aku dan ibu langsung bergegas menuju toko kue yang berada disekitar rumahku untuk membeli kue sebagai buah tangan. Agak lama aku memilih-memilih kue yang pas untuk dibawa. Habis semuanya enaaakkk sih.. hehee.. Cukup lama aku menimbang-nimbang. Namun segera kuputuskan dan akupun segera menghampiri kasir untuk membayar kue yang tengah kupilih.

Aku dan ibu tiba dirumah hampir maghrib. Bergegaslah aku untuk segera bersih diri. Ketika itu ibu telah bersih diri dan tinggal bersolek karena malam ini ibu akan ikut bapak pergi dengan agenda mengajar mengaji para ibu disetiap pekannya.
Maghrib pun tiba. Ibu sudah rapi. Lalu sholat maghrib. Aku baru selesai bersih diri. Ibu dan bapak pergi dahulu dariku. Aku sholat kemudian bersolek diri. Ku dapati bayanganku di depan cermin. Ku amati ia lekat-lekat. Bayangan itu, yang--kata orang--manis, imut, seperti anak kecil, pipinya yang chubby-- membuat semua orang ingin menyubitnya, tahi lalat yang bertengger diantara kedua matanya bak orang india-kata orang, disana juga ada sedikit bekas jerawat kian memudar, dan kantung kecil pada matanya akibat selalu begadang tengah malam. Bayangan itu mendesah. Semoga silaturrahmi kali ini akan lebih baik dari sebelumnya. Cair. Kian menentramkan hati.
Aku tersadar, terlalu lama ku bersolek di depan cermin. Segeralah aku memakai jilbab coklat-yang metching denga rokku-dengan khas gayaku.
Tepat pukul 19.00. bergegas ku meningkan rumah, yang tersisa hanya adikku seorang diri. Aku menuju rumah sahabat yang sekaligus saudara jauhku, yang tak lain ia adalah Sulis. Yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku. Cukup dengan berjalan kaki kurang dari 5 menit langsung sampai rumahnya. Adzan isya berkumandang. Aku dan Sulis segera memenuhi panggilan-Nya. Aku yang tengah memiliki wudhu, sejenak berdiam (lagi) di dapan cermin sambil menunggu Sulis yang sedang bersuci untuk sholak isya berjamaah.
Kami langsung meluncur ke tempat undangan. Di suatu Gang yang ndak jauh dari Gang rumahku. Aku sedikit lupa akan rumah yang ingin kutuju. Karena baru sekali aku kesana. Itu juga karena ada acara walimahan. Dan ini kali kedua aku menuju rumah itu. Dengan suasana yang berbeda pastinya.

Benar ternyata aku lupa!

Dan sama sekali tak dapat menerka-nerka rumah yang hampir dua tahun lalu ramai akan acara walimahan. Aku dan Sulis sudah diujung gang. Terhenti. Bingung. Dan tak lama ada sebuah motor, dan terhenti di sebuah rumah yang tadi telah kami lewati. Mas dan Mbak itu. Yang menjadi pengantin, yang hampir dua tahun lalu. Kami mengenal mereka. Terlebih Mbak itu, kami khususnya aku pernah mengaji bersamanya. Ya, meski tak terlalu akrab. Kami pun segera menghampiri mereka, meski mereka telah dahulu masuk ke dalam rumah itu. Ternyata ini rumahnya. Rumah tempat dimana aku diundang untuk bersilahturrahmi..



Ahh, semakin berdebar. Ada hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti diri. Flu dadakan pun kian menghampiri.


Allah..
Tenangkan hati ini..
Aku yakin kali ini pasti akan lebih baik..

Desahku dalam kalbu.

Aku tengah di depan rumah itu. Berdiri dan terdiam dengan suara jantung yang kian menderang. Belum ku layangkan salam ke dalam rumah itu. Karena kau masih menunggu Sulis yang sedang bersusah payah untuk memarkirkan motornya. Agak lama. Maklum, ia baru beberapa bulan dapat mengendarai motor.

Aku juga mau bisaaaaa…


Kulihat rumah itu dengan seksama sebelum ku layangkan salam ke dalamnya. Sederhana. Seperti rumahku. Rumah ibu dan bapakku maksudnya. Hehee.. Namu ku yakin, bagai syurga dengan cinta yang luar biasa di dalamnya..

Ternyata ada seseorang di dalam. Sedang duduk di ruang tamu sambil sibuk menyantap makanan ringan. Abi. Salam pun segera ku layangkan ke dalam rimah sambil kumemandang wajah Abi dari kaca jendela yang agak tersingkap gordennya, pertanda ada seseorang ingin bertamu. Abi pun segera menajawab salamku dan menyambut kami dengan sikap hangatnya. Kamipun masuk dan duduk di dalam. Kali pertamanya aku masuk ke rumah ini dengan keadaan yg sebenarnya. Tak lama ada seorang wanita berkerudung biru dengan baju pink dan celana panjang coklatnya. Dengan wajah yang kian menua, mata yang agak sayu mungkin karena kurang istirahat, menghampiri kami. Ibu. Istri Abi. Beliau sosok yang selalu kunant senyumnya, belaian kasih sayangnya, karena cepat atau lambat beliau juga akan menjadi Ibuku.

Semogaaa…


Tak lama selang beberapa menit dari ibu, penghuni yang sedari tadi di dalam pun menghampiri kami di ruang tamu yang tak begitu luas. Setidaknya cukup untuk keluarga kecil mereka. Mba itu. Keluar dengan dua piring yang berisi martabak manis dan telur, dan buah jeruk yang warna orennya menggoda mata dan lidah. Hehee..

Setelah lama berbincang ngalor ngidul sama Abi dan Ibu. Mba itu kembali keluar, kali ini dengan nampan yang berisi teh hangat. Tapi belum bisa kami minum karena ternyata tehnya terlalu panas. Alhasil, Abi pun menawari kami air mineral sebagai pemulanya.

Tak enak jadi merepotkan sekali..


Dan inti dari silahturrahmi ini pun dimulai oleh Abi.....

Aku sangat senang bisa mengenalnya. Sosoknya yang tenang lagi menenangkan, cara bicaranya yang lembut, yang dapat merasup ke dalam hati seakan mengerti setiap pribadi yang tengah berada dihadapannya. Aku.
Itu yang membuat aku yakin dan bertambah bersyukur ketika bisa segera di sah-kan hidup bersama putra bungsunya kelak. Semoga hal itu akan segera terlaksana. Ya, minimal sebulan setelah hari ini.

Lamunanku pecah seketika Abi telah selesai mengungkapkan isi hatinya yang juga merupakan isi hati istrinya. Yang menginginkan salah satu antara aku dan putra bungsunya lulu terlebih dahulu. Barulah pernikahan kami dilangsungkan. Karena Abi khawatir dan takut nantinya kami-khusunya aku-menikah ketika masih kuliah akan bertambah rumit, ribet dan takut mengganggu kuliah dan berujung pada hal yang tak diinginkan.

InsyaAllah takkan seperti itu kok, Bii. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman teman, kakak tingkatku yang menikah muda, dari buku-buku yang membahas nikah dini dikala duduk di bangku kuliah. Aku tahu, untukku hal itu masih batasan sekedar teori. Namun itu akan kujadikan pelajaran dan pengingatku dikala aku dan putra bungsumu telah menyatu dalam ikatan suci yang diridhoi. 

Jelasku dalam hati.


Tentang sebuah pertanyaan sebuah kesiapan, aku langsung merasuk ke paling dalam lubuk hatiku. Hati kecilku. Perkataan yang paling jujur.
Apa aku sudah sepenuhnya siap?
Apa yang sudah kau siapkan sampai hari ini??

Mataku menerawang, entah kemana. Acapkali ku gigit bibirku.

Aku siap untuk menerima kekurangan dan kelebihan putramu. Siap untuk hidup bersamanya dikala suka dan duka. Siap berlelah-lelah ria bersamanya demi sebuah pahala syurga. Siap untuk selalu tetap berpenghasilan untuk membangun rumah tangga kami, meski saat ini belumlah ada pekerjaan yang benar-benar bisa diandalkan. Siap untuk segala hal yang terjadi. Sungguh, ini bukan sekedar kata SIAP yang kubuat-buat. Ini benar –benar terucap dari hati yang ikhlas untuk mulai berlayar di luasnya samudra pernikahan. InsyaAllah...


Ibu dan Abiku pun sebenarnya tengah siap jika pihak dari keluarga calon suami juga benar-benar menunjukkan kesiapannya dengan segera berkunjung ke rumah untuk membicarakan pernikahan ini lebih matang.
Pembicaraan kami malam itu sunguh cair. Sesekali diselingi dengan canda dan guyunon dari cerita Abi calon suamiku. Santai namun berisi… ^^


Tak sadar, malam kian larut. Jam tanganku pun tengah menunjukkan pukul 21.00. Abi pun fahim dan pembicaraan kami pun diakhiri dengan seuntai senyuman..
Aku dan Sulis segera pamit untuk pulang. Dan tak lupa kusematkan ucapan terimakasih atas undangan dan jamuan malam ini.

Ku kecup punggung tangan kanan Ibu dan Abi. 
Dan kami meluncur pulang..



*****


Robbii…
Semoga waktu yang indah itu akan segera hadir membawa senyum semangat untuk kami yang ingin segera disatukan, kedua keluarga besar kami, dan orang lain yang mengenal kami secara baik maupun tidak.

Aamiin..

Ku menanti bulan syawal yang penuh barokah-Mu.. :’)






*To be continue…… n_=v


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Degup yang tak berhenti berdebar
Di Ciracas, 27 Mei 2012
Di sebuah gang
19.30









0 komentar:

Posting Komentar