Allah…
Tenangkan hati ini..
Berharap pertemuan kali ini akan lebih baik dari sebelumnya..
Mudahkan aku dalam berbicara yang baik-baik
Semoga ndak cengeng
Semoga kian ceria
Dan ada secercah harapan..
Bismillaaah…
*****
Sejak 2 hari yang lalu ketika undang
silaturrahmi itu disampaikan ibu kepadaku, diri ini langsung memikirkan apa
yang akan terajdi esok?
Akankah ada hal-hal yang tak diinginkan kan
terjadi, cecarankah adari keluarganya atau sebuah kabar yang lebih baik yang
akan menenagkan hati??
Tak ayalnya diri ini terus menerka-nerka.
Ketakutan dan kegelisahan kian mebayang-bayangi diri. Alhasil membuat diri
menjadi tak fokus akan tugas-tugas akhir di semester ini.
Allah…
Sungguh saat
ini hanya Engkau yang dapat kuhampiri. Hanya Engkau yang dapat menenangkan
gelisahnya hati ini.
Sholat Tahajud, hajat, dan istikoroh pun
kerap dilakoni, tak tertinggal dhuhaku, semuanya demi tenangnya hati ini.
Ah, ternyata yang gelisah lagi galau tak
hanya diriku. Ibu dan bapakku pun sepertiku. Namun, yang mereka gelisahkan
bukan tentang apa yang akan dibicarakan. Mereka gelisah tentang apa yang akan
dilakukan ketika silaturrahmi itu membuahkan hasil yang positif. Positif untuk
dilangsungkannya pernikahanku di dekat bulan-bulan ini. Juni atau Juli. Yang
sebenarnya bulan-bulan yang membutuhkan banyak biaya. Biaya untuk adikku masuk
SMA. Biaya untuk ke jawa-yang isnyaAllah-keponakan ibu-anaknya bude-akan segera
menikah. Dan jika pernikahanku juga dilangsungkan bersamaan dengan kedua hal
itu, pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit. Lain dari itu ibu dan bapakku
tak ada yang bekerja-meski tetap memiliki penghasilan dari aktivitas
sampingannya yang mengajar mengaji. Namun, itu belum cukup untuk menutupi
kebutuhan yang memerlukan biaya yang bisa dibilang cukup besar. Lalu dari mana
biaya itu akan kami dapatkan?
Dari Allah,
Diel (desahku
dalam hati)
Sejujurnya aku sedih setiap mendengar
rintihan ibu dan bapak akan hal itu.
Maafkan aku
ya Bu, Pak…
Bukan
maksudku untuk selalu menyusahkan kalian…
Namun, berkali-kali aku selalu meyakinkan
mereka, bahwa akan ada jalan disetiap niat baik yang akan dilakukan..
Alhamdulillahnya ibu dan bapak adalah orang
yang mengerti tentang agama. Sehingga tak mudah berputus asa dari Rahmat-Nya.
Jadi merekapun selalu meyakinkan diri bahwa semua pasti ada jalannya..
Namun, tak jarang ketika hal itu terpikirkan
kembali, jadi pada ngegalau lagi deehh. Dan aku mencoba untuk tetap tersenyum
dan tertawa ketika sedang mebahasanya.. :D
Padahal aku
yang paling GALAUUUU!!
*****
Hari ini, Ahad 27 Mei 2012, dimana undang
silahturrahmi itu harus kupenuhi. Rasanya jantung ini berdebar lebih cepat dan
suaranya pun kian menderang seolah gendering yang memikikan telinga si empunya.
Setelah aku selesai mengajar privat dibilangan
kalimalang, aku dan ibu langsung bergegas menuju toko kue yang berada disekitar
rumahku untuk membeli kue sebagai buah tangan. Agak lama aku memilih-memilih
kue yang pas untuk dibawa. Habis semuanya enaaakkk sih.. hehee.. Cukup lama aku
menimbang-nimbang. Namun segera kuputuskan dan akupun segera menghampiri kasir
untuk membayar kue yang tengah kupilih.
Aku dan ibu tiba dirumah hampir maghrib.
Bergegaslah aku untuk segera bersih diri. Ketika itu ibu telah bersih diri dan
tinggal bersolek karena malam ini ibu akan ikut bapak pergi dengan agenda
mengajar mengaji para ibu disetiap pekannya.
Maghrib pun tiba. Ibu sudah rapi. Lalu sholat
maghrib. Aku baru selesai bersih diri. Ibu dan bapak pergi dahulu dariku. Aku
sholat kemudian bersolek diri. Ku dapati bayanganku di depan cermin. Ku amati
ia lekat-lekat. Bayangan itu, yang--kata orang--manis, imut, seperti anak kecil,
pipinya yang chubby-- membuat semua orang ingin menyubitnya, tahi lalat yang
bertengger diantara kedua matanya bak orang india-kata orang, disana juga ada
sedikit bekas jerawat kian memudar, dan kantung kecil pada matanya akibat
selalu begadang tengah malam. Bayangan itu mendesah. Semoga silaturrahmi kali
ini akan lebih baik dari sebelumnya. Cair. Kian menentramkan hati.
Aku tersadar, terlalu lama ku bersolek di
depan cermin. Segeralah aku memakai jilbab coklat-yang metching denga
rokku-dengan khas gayaku.
Tepat pukul 19.00. bergegas ku meningkan
rumah, yang tersisa hanya adikku seorang diri. Aku menuju rumah sahabat yang
sekaligus saudara jauhku, yang tak lain ia adalah Sulis. Yang rumahnya tak
terlalu jauh dari rumahku. Cukup dengan berjalan kaki kurang dari 5 menit
langsung sampai rumahnya. Adzan isya berkumandang. Aku dan Sulis segera
memenuhi panggilan-Nya. Aku yang tengah memiliki wudhu, sejenak berdiam (lagi)
di dapan cermin sambil menunggu Sulis yang sedang bersuci untuk sholak isya
berjamaah.
Kami langsung meluncur ke tempat undangan.
Di suatu Gang yang ndak jauh dari Gang rumahku. Aku sedikit lupa akan rumah yang ingin kutuju. Karena baru sekali
aku kesana. Itu juga karena ada acara walimahan. Dan ini kali kedua aku menuju
rumah itu. Dengan suasana yang berbeda pastinya.
Benar ternyata aku lupa!
Dan sama sekali tak dapat menerka-nerka rumah
yang hampir dua tahun lalu ramai akan acara walimahan. Aku dan Sulis sudah
diujung gang. Terhenti. Bingung. Dan tak lama ada sebuah motor, dan terhenti di
sebuah rumah yang tadi telah kami lewati. Mas dan Mbak itu. Yang menjadi
pengantin, yang hampir dua tahun lalu. Kami mengenal mereka. Terlebih Mbak itu,
kami khususnya aku pernah mengaji bersamanya. Ya, meski tak terlalu akrab. Kami
pun segera menghampiri mereka, meski mereka telah dahulu masuk ke dalam rumah
itu. Ternyata ini rumahnya. Rumah tempat dimana aku diundang untuk
bersilahturrahmi..
Ahh, semakin berdebar. Ada hawa dingin yang tiba-tiba
menyelimuti diri. Flu dadakan pun kian menghampiri.
Allah..
Tenangkan hati ini..
Aku yakin kali ini pasti akan
lebih baik..
Desahku
dalam kalbu.
Aku tengah
di depan rumah itu. Berdiri dan terdiam dengan suara jantung yang kian
menderang. Belum ku layangkan salam ke dalam rumah itu. Karena kau masih menunggu
Sulis yang sedang bersusah payah untuk memarkirkan motornya. Agak lama. Maklum,
ia baru beberapa bulan dapat mengendarai motor.
Aku juga mau bisaaaaa…
Kulihat
rumah itu dengan seksama sebelum ku layangkan salam ke dalamnya. Sederhana.
Seperti rumahku. Rumah ibu dan bapakku maksudnya. Hehee.. Namu ku yakin, bagai syurga dengan cinta yang luar biasa di dalamnya..
Ternyata ada
seseorang di dalam. Sedang duduk di ruang tamu sambil sibuk menyantap makanan
ringan. Abi. Salam pun segera ku layangkan ke dalam rimah sambil kumemandang
wajah Abi dari kaca jendela yang agak tersingkap gordennya, pertanda ada
seseorang ingin bertamu. Abi pun segera menajawab salamku dan menyambut kami dengan
sikap hangatnya. Kamipun masuk dan duduk di dalam. Kali pertamanya aku masuk ke
rumah ini dengan keadaan yg sebenarnya. Tak lama ada seorang wanita berkerudung
biru dengan baju pink dan celana panjang coklatnya. Dengan wajah yang kian
menua, mata yang agak sayu mungkin karena kurang istirahat, menghampiri kami.
Ibu. Istri Abi. Beliau sosok yang selalu kunant senyumnya, belaian kasih
sayangnya, karena cepat atau lambat beliau juga akan menjadi Ibuku.
Semogaaa…
Tak lama
selang beberapa menit dari ibu, penghuni yang sedari tadi di dalam pun
menghampiri kami di ruang tamu yang tak begitu luas. Setidaknya cukup untuk
keluarga kecil mereka. Mba itu. Keluar dengan dua piring yang berisi martabak
manis dan telur, dan buah jeruk yang warna orennya menggoda mata dan lidah.
Hehee..
Setelah lama
berbincang ngalor ngidul sama Abi dan Ibu. Mba itu kembali keluar, kali ini
dengan nampan yang berisi teh hangat. Tapi belum bisa kami minum karena
ternyata tehnya terlalu panas. Alhasil, Abi pun menawari kami air mineral
sebagai pemulanya.
Tak enak jadi merepotkan sekali..
Dan inti
dari silahturrahmi ini pun dimulai oleh Abi.....
Aku sangat senang bisa
mengenalnya. Sosoknya yang tenang lagi menenangkan, cara bicaranya yang lembut,
yang dapat merasup ke dalam hati seakan mengerti setiap pribadi yang tengah
berada dihadapannya. Aku.
Itu yang
membuat aku yakin dan bertambah bersyukur ketika bisa segera di sah-kan hidup
bersama putra bungsunya kelak. Semoga hal itu akan segera terlaksana. Ya,
minimal sebulan setelah hari ini.
Lamunanku
pecah seketika Abi telah selesai mengungkapkan isi hatinya yang juga merupakan
isi hati istrinya. Yang menginginkan salah satu antara aku dan putra bungsunya
lulu terlebih dahulu. Barulah pernikahan kami dilangsungkan. Karena Abi
khawatir dan takut nantinya kami-khusunya aku-menikah ketika masih kuliah akan
bertambah rumit, ribet dan takut mengganggu kuliah dan berujung pada hal yang
tak diinginkan.
InsyaAllah takkan seperti itu
kok, Bii. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman teman, kakak tingkatku yang
menikah muda, dari buku-buku yang membahas nikah dini dikala duduk di bangku
kuliah. Aku tahu, untukku hal itu masih batasan sekedar teori. Namun itu akan
kujadikan pelajaran dan pengingatku dikala aku dan putra bungsumu telah menyatu
dalam ikatan suci yang diridhoi.
Jelasku dalam hati.
Tentang sebuah pertanyaan sebuah kesiapan,
aku langsung merasuk ke paling dalam lubuk hatiku. Hati kecilku. Perkataan yang
paling jujur.
Apa aku sudah sepenuhnya siap?
Apa yang sudah kau siapkan sampai hari ini??
Mataku menerawang, entah kemana. Acapkali ku
gigit bibirku.
Aku siap untuk menerima kekurangan dan
kelebihan putramu. Siap untuk hidup bersamanya dikala suka dan duka. Siap
berlelah-lelah ria bersamanya demi sebuah pahala syurga. Siap untuk selalu
tetap berpenghasilan untuk membangun rumah tangga kami, meski saat ini belumlah
ada pekerjaan yang benar-benar bisa diandalkan. Siap untuk segala hal yang
terjadi. Sungguh, ini bukan sekedar kata SIAP yang kubuat-buat. Ini benar –benar
terucap dari hati yang ikhlas untuk mulai berlayar di luasnya samudra
pernikahan. InsyaAllah...
Ibu dan Abiku pun sebenarnya tengah siap jika
pihak dari keluarga calon suami juga benar-benar menunjukkan kesiapannya dengan
segera berkunjung ke rumah untuk membicarakan pernikahan ini lebih matang.
Pembicaraan kami malam itu sunguh cair.
Sesekali diselingi dengan canda dan guyunon dari cerita Abi calon suamiku.
Santai namun berisi… ^^
Tak sadar, malam kian larut. Jam tanganku pun
tengah menunjukkan pukul 21.00. Abi pun fahim dan pembicaraan kami pun diakhiri
dengan seuntai senyuman..
Aku dan Sulis segera pamit untuk pulang. Dan
tak lupa kusematkan ucapan terimakasih atas undangan dan jamuan malam ini.
Ku kecup punggung tangan kanan Ibu dan Abi.
Dan kami meluncur pulang..
*****
Robbii…
Semoga waktu yang indah itu akan
segera hadir membawa senyum semangat untuk kami yang ingin segera disatukan,
kedua keluarga besar kami, dan orang lain yang mengenal kami secara baik maupun
tidak.
Aamiin..
Ku menanti bulan syawal yang
penuh barokah-Mu.. :’)
*To be
continue…… n_=v
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Degup yang tak berhenti berdebar
Di Ciracas, 27 Mei 2012
Di sebuah gang
19.30














0 komentar:
Posting Komentar