To CELOTEH BINTANG ^_^

click to create your own

Minggu, 04 Desember 2011

Robithohku Untukmu, kawan...

Ingatkah dengan sebuah nasyid ini?



Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahya-Mu
Yang takkan pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kam

Lapangkan dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal pada-Mu
Hidupkan dengan ma’rifat-Mu
Matikan dalam syahid dijalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

-Robithoh_Izzis-



Teringat akan semua kenangan bersamamu, kawan. Dari sebuah senyum dan kata salam “Assalamu’alaykum..”, kau membuatku ingin mengenalmu. Ingin mengenal kepribadianmu, dan berteman denganmu, kawan. Disetiap event-event islami, tak lupa kau layangkan informasi pada telepon genggamku. Di setiap kegiatan dan kepanitian rohani, kau selalu mendampingi. Mengajari dan menasehati diri yang belum begitu fahim akan semua yang diberi.

Setiap pekannya kita selalu bertemu untuk mencari dan berbagi ilmu. Semuanya kulakukan dan kulalui dengan hati yang ikhlas lagi penuh syukur karena bisa dipertemukan dengan teman sepertimu. Setiap gerak-gerikmu selalu kulihat. Ku coba untuk pahami apa yang sedang, tengah ataupun sudah kau lakukan dan lalui. Tangguhnya dirimu. Tak pernah kau mengeluh lelah untuk setiap tanggung jawab yang diberi. Kau begitu ikhlas, kawan. Sungguh menawan. Menawan untuk setiap pribadi yang mengenalmu. Aku ingin sepertimu, kawanku.

Dari semuanya itu, perlahan kulakukan semua kegiatan yang sudah kuanggap sebagai rutinitas dan prioritas untukku. Detik demi detik telah kita lewati bersama. Haripun begitu cepat berlalu ketika kita telah berkumpul. Dan tak terasa sudah tahunan kita merajut sehelai tali demi tali diantara kita. Tali yang begitu menawan lagi kokoh simpulnya. Tali yang sama-sama kita genggam erat. Yang kita jaga agar simpulnya tetap kuat tanpa ada sedikit karat. Ya, Kau sering menyebutnya ‘Tali Ukhuwah’. Indah. Yang ketika suka dan duka akan dilalui bersama. Yang selalu mengingatkan ketika salah. Yang peduli terhadap sesama. Semua bak manisnya buah yang tengah masak.

Aku tlah menjalani segalanya. Belajar dari sisi kepribadianmu. Dan akhirnya aku mengetahui bahwasanya sebuah ukhuwah tak sekedar manis saja yang dapat kurasa. Asam dan pahitpun ternyata kan selalu ada. Bukankah itu ujian untuk memperkokoh, memperkuat tali yang sejak awal kita rajut??

Sesekali atau bahkan berulang kali, diri ini banyak membuatmu kecewa akan sikapku. Permasalahan kecil, terlihat begitu besar dihadapanku. Kitapun berseteru. Bertemupun teramat canggung, bak orang asing yang belum pernah bertemu. Gandengan tanganmu kini terasa melemah. Tak kudapati lagi sebuah nasihat yang membuat nyaman dan tenang. Kemanakah sebuah senyuman dan kata salam darimu yang mengawali pertemuan kita, kawan??.. Sedih rasanya. Seperti kehilangan benda yang amat berharga.

Bersyukur, itu hanya beberapa waktu..
Dengan kesabaranmu, kau memaafkan kesalahanku. Kau memberikan waktu untukku, untuk berpikir akan apa yang telah kulakukan. Begitu bijaknya dirimu, kawan. Lagi dan lagi aku belajar tentang hal itu darimu. Benar-benar sangat merindukan pelukanmu, kawan. Yang begitu hangat dan membuatku begitu nyaman.

Dan ingatkah ketika kita bernasyid ria bersama?
Ya, Robithoh-lah yang dilantunkan. Berhari-berhari berlatih, untuk dapat hadir disebuah acara yang semua undangnnya adalah seorang wanita. Semuanya pun berperan dan mendapat bagiannya masing-masing. Begitupun denganku, aku menjadi penabuh sebuah drum mini.
Cukup asyik. Keren! n_=b

Begitu sangat bahagia ketika kita dapat terus berjalan berdampingan. Bergandengan tangan menuju masa depan bersama. Ya, bersama kalian, kawan-kawanku.

Namun, tak dapat dipungkiri, setiap diri pasti memiliki cita-cita dan mimpi yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, kita pun berpisah. Engkau dimana, aku dimana. Tapi langkah kita tetap sama. Sama-sama terus berjuang tuk kobarkan panji kemenangan. Yapz, menjadi agen untuk menuju perubahan yang lebih baik.

Tahun pertama kita berpisah, ikatan ini masih kurasa sangat kuat. Rasa rindu diantara kita masih sangat besar. Komunikas ipun Alhamdulillah lancar. Meski terkadang tak jarang teracuhkan. Terlebih ketika menyeruak kabar tak baik tentangku atau tentangmu. Sikapmu teramat dingin terhadapku. Pesan singkat “Luv u cZ Allah” pun tak lagi kau lontarkan padaku. Senyummu pun bagai hilang ditelan malam. Padahal aku sudah tak memperdulikan apa yang pernah terjadi diantara kita. Dan yang kurasa, kau dan yang lainnya menarik diri dariku. Atau aku yang menarik diri dari kalian?? Entahlah. Aku bingung. Aku merasa sendiri.

Ditahun berikutnya, sikapmu masih seperti yang dulu.
Dingin.
Acuh.
Untuk jalan bersama-sama saja sudah tak pernah. Engkau yang selalu meng-update info-info kepadaku, kini sudah tak kudapatkan. Bahkan mengajak untuk ke acara rohani seperti dulupun begitu terasa canggung.

Disis yang lain, yang terhadirkan hanya sebuah sindir menyidir via jejaring sosial. Meski itu tak langsung kau berikan kepadaku, namun pekanya diri ini tak bisa dipungkiri bahwa note-note atau apapun yang kau share itu tersirat untukku.

Tak hanya itu, nasihatmu pun tak semanis dan tak sehangat waktu itu. Ucapanmu bak pisau yang siap menyayat-nyayat hati ini. Padahal, ketika kau memiliki masalah yang sangat pelikpun, aku tak setega itu. Tak mampu untuk menyakiti lembutnya hatimu. Sakit rasanya diperlakukan seperti itu. Namun, lebih sakit ketika ku benar-benar kehilangan sosok kawan sepertimu. Aku rindu kalian, kawan...

Andai kau tahu..
Diri ini merasa sendiri ketika kalian tak ada disisi. Ku berjalan seorang diri tanpa gandeng tangan kalian. Tak ada seorangpun yang dapat ku ajak tuk berbagi. Kawan sendiri bagaikan orang asing yang baru kutemui, dan orang asing bagaikan kawan yang telah lama berada disisi.


Kemanakah kalian?

Atau

Kemanakah aku selama ini?



Tidakkah kalian merindukanku..??

Atau

Begitu besarkah rasa benci dan kecewa kalian terhadapku??
Sampai sedikitpun kalian tak peduli seperti apa dan bagaimana diriku??..



Meski seperti itu, izinkan aku menungkapkan perasaanku bahwa ...

Aku sangat merindukan senyum, salam, sapa dan pelukan kalian, wahai kawanku.. :’(



Kalian selalu teringat dalam doa dan sujud panjangku. Rasa rindu ini teramat besar sehingga ia mengubur dalam-dalam rasa kecewa, sakit, dan teraniaya yang pernah kurasa.

Pun tak pernah terlupa. Kulantunkan pula Robithoh untukmu, kawan. Sambil menerawang jauh kedalam hati dan pikiran pada wajah-wajah yang rupawan, hati-hati yang lembut lagi tangguh.

Ku selalu berdoa dan berharap kepada Sang Pemilik hati-hati ini, semoga hati-hati kita kan tetap terpaut karena-Nya. Semoga ukhuwah yang tengah dibangun dengan sebuah senyuman dan salam ini, kan kokoh adanya. Sehingga kan dapat menjadi penolong kita tuk berada bersama di Jannah-Nya.
Robithohku untukmu, kawan...




...

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahya-Mu
Yang takkan pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami

...



Baitii Jannatii, 03 Desember 2011 / 15:51
~Bintang Keudcil Berceloteh~



0 komentar:

Posting Komentar