PROFIL ANAK
Nama | : | Tauriq |
Kelas | : | 1 A |
Sekolah | : | Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihsan |
Alamat Rumah | : | Jl. Andong I Rt. 05/07 Kel. Kota Bambu Selatan, Kec. Palmerah, Jakarta Barat |
WAWANCARA
Mahasiswa | : | Bagaimana interaksi Tauriq dengan teman-teman sebayanya, bu? |
Guru | : | Kalau teman main memang banyak, karena dia sebenarnya pintar bergaul dengan siapa saja. |
Mahasiswa | : | Apakah ada temannya yang pernah melaporkan kalau Tauriq adalah anak yang nakal, bu? |
Guru | : | Ya, pasti ada. Sudah begitu, dia memang orangnya tidak cengeng ketika dibalas diganggu oleh temannya. Orang tuanya sendiri sepertinya sudah menyerah untuk mendidik Tauriq dan lebih pasrah kepada kami selaku gurunya. Memang faktor lingkungan sangat menentukan perkembangan karakter anak. Walaupun kita di sini sudah mendidik dengan benar, tetap faktor lingkunganlah yang paling menentukan. |
Mahasiswa | : | Seringkah Tauriq mengganggu teman-temannya? |
Guru | : | Ya namanya anak-anak pasti setiap hari selalu ada saja yang mengganggu atau menjahili temannya. Kami sebagai guru sudah bekerja sama dalam mengajar. Misalnya saya sedang mengajar, maka Pak Mahfudin yang akan membantu anak-anak yang masih kesulitan dalam mengajar. Pokoknya kami berdua mengatur jadwalnya. |
Mahasiswa | : | Kalau dilihat dari prestasinya di kelas, bagaimana ya, bu? Misalnya keaktifan bertanya di kelas atau semacamnya? |
Guru | : | Kalau dilihat dari prestasinya, Tauriq ini sebenarnya anak yang cukup pintar. Bila diibaratkan, di sini ada 37 siswa. Bisa dikatakan Tauriq menempati peringkat 20 besar. Ya rata-rata lah kemampuannya. Memang ya setahu saya juga didikan di rumahnya memang sangat keras. |
Mahasiswa | : | Dari cara berbicaranya, apakah pernah terlontar kata-kata yang kurang baik dari Tauriq, bu? |
Guru | : | Ya kalau sama teman-teman sebayanya, biasanya ngomong seperti itu. Tetapi kita sebagai guru langsung berusaha menegurnya ketika tahu Tauriq berbicara seperti itu. Tapi semua anak pasti punya latar belakang tersendiri mengapa mereka bersikap seperti itu. |
Mahasiswa | : | Kira-kira apa yang melatarbelakangi Tauriq bisa bersikap seperti itu? |
Guru | : | Mungkin dari keluarganya sangat “strength”, keras. Anak itu mematuhi orang tuanya karena takut, bukan karena kesadaran sendiri. Jadi begitu keluar rumah biasanya anak seperti baru keluar dari kandang, terbebas dari segala hukuman dari orang tuanya. Pernah sih saya ngobrol secara pribadi dengan orang tuanya untuk mencari tahu. Ya ternyata orang tuanya saja sudah pasrah. Ya kita sebagai guru menjadi sedih mendengar jawaban seperti itu. Sedih karena kita bisa menangani anak lain, tetapi untuk anak yang satu ini cukup sulit. Kalau dari faktor ekonomi mungkin saja ada pengaruhnya, karena orang tuanya kan bekerja, ibunya jadi pengasuh anak. Itu pun penghasilannya belum cukup. Terbukti, Tauriq selalu tidak memiliki buku paket, LKS dan semacamnya. Padahal kita dari pihak sekolah sudah memberi keringanan untuk mempotokopi buku itu. Tentu itu jadi menghambat Tauriq dalam proses pembelajarannya. |
Mahasiswa | : | Baik ibu, saya rasa cukup untuk wawancara mengenai Tauriq. Terima kasih banyak untuk info yang diberikan. |
Guru | : | Iya, sama-sama. |
ANALISIS MASALAH
a. Masalah
Dari hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan dengan wali kelas 1 pada sekolah tersebut, kami mengamati salah seorang siswa yang bernama Tauriq. Menurut keterangan dari Ibu Sumi selaku wali kelas 1, Tauriq ini adalah salah satu siswa yang terbilang sangat ‘aktif’ di kelas. Dia sangat sering menjahili teman-temannya ketika proses pembelajaran berlangsung. Menurut keterangan dari wali kelas dalam wawancara di atas, Tauriq juga jarang mengerjakan tugas atau PR yang diberikan oleh guru. Namun, dalam segi kognitif, Tauriq ini sebenarnya termasuk anak yang pandai dan cepat tanggap dalam menguasai pelajaran. Namun pada kenyatannya, Tauriq adalah anak yang malas dalam menyelesaikan tugas-tugasnya dan hanya dapat berkonsentrasi sebentar saja dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut dapat terjadi pada Tauriq disebabkan kurangnya perhatian dari sang orang tua. Yang jarang atau bahkan tidak pernah menanyakan ada atau tidaknya tugas dari sang guru. Selain itu, ketidakmampuan orang tua dalam membelikan sebuah buku wajib bagi si anak, Tauriq.
Jika dilihat dari lingkungan Tauriq tinggal, ia memang termasuk anak yang nakal. Sehingga tauriq selalu mendapatkan hukuman dari sang ibu yang berupa cubitan sampai pukulan. Hukuman yang diberikan sang ibu itu menjadikan karakter Taurik yang keras dan tidak betah di rumah. Hukuman tersebutpun sangat berefek pada pribadi anak di lingkungan sekolah atau lainnya. Bahwasanya lingkunganlah yang dapat membentuk pribadi seorang menjadi baik atau malah menjadi buruk. Malah sering kali didapati Tauriq ini melontarkan kata-kata kasar kepada teman-temannya.
b. Latar Belakang
- Faktor keluarga, yaitu kurangnya perhatian dari orang tua. Karena kedua orang tuanya sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sehingga anak-anaknya kurang diperhatikan.
- Faktor ekonomi, pada faktor ini, si anak, Taurik termasuk ari keluarga menengah kebawah. Sehingga pasti ada saja kebutuhan yang tak dapat terpenuhi dengan layaknya.
c. Kaitannya dengan teori perkembangan anak
Kaitannya dengan teori psikoanalitik menurut Sigmunt Freud

Jika dilihat dari hasil observasi dan wawancara yang tengah kami lakukan, kami mengkaitkannya dengan teori yang dibawa oleh Sigmun freud, yaitu teori psikoanalitik. Teori ini terdiri dari dua variasi yakni personal dan interpesoanal, bagaimana kepribadian mempengaruhi belajar dan perilaku. Aliran personal dari teori psikoanalitik adalah tradisi Sigmund Freud yang berpendapat bahwa orang bertindak atas dasar motif yang tak disadarinya maupun atas dasar pikiran, perasaan dan kecenderungan yang disadari dan sebagaian yang tidak disadari.
Seperti yang kita lihat dari hasil wawancara dengan guru kelas mengenai si Tauriq, anak sekolah dasar kelas satu MI Al-Ihsan. Bahwasanya kepribadian Tauriq mempengaruhi dalam proses belajar dan perilaku sehari-hari. Lihat saja kepribadian Tauriq yang sangat kurang mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya, mengakibatkan Tauriq menjadi anak malas dan tidak rajin dalam proses belajar di sekolah. Selain itu perilakunyapun kurang mencerminkan sebagai anak yang baik, karena dilingkungan ia tinggalpun ia selalu mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Sehingga tak salah jika saat ini kepribadian Tauriq jauh dari baik.
Dasar pendapat dan pandangan Frued berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman mental manusia tidak ubahnya seperti gunung es yang terapung di samudra yang hanya sebagian terkecil yang tampak, sedangkan sembilan persepuluhnya dari padanya yang tidak tampak, itulah yang merupakan bagian /lapangan ketidak sadaran mental manusia berupa pikiran kompleks, perasan dan keinginan-keinginan bawah sadar yang tidak dialami secara langsung tetapi ia terus mempengarui tingkah laku manusia.
Dalam teorinya, Freudpun membagi beberapa fase perkembangan kepribadian, diantaranya adalah fase laten, fase ini adalah fase yang terpanjang, berlangsung pada saat umur 6 tahun sampai usia 12 tahun atau usia pubertas. Pada saat ini seorang anak dipengaruhi oleh aktivitas sekolah, teman-teman dan hobinya. Kegagalan pada fase ini akan menyebabkan kepribadian yang kurang bersosialisasi dengan lingkungannya. Adalah Tauriq yang sedang dalam fase ini, jika dilihat dari usia dan tingkatan kelas yang sekarang ia duduki. Saat ini seorang Tauriq, kepribadiannya memang tenganh dipengaruhi oleh masa sekolah. Yang dimana pada sekolah tepatnya saat proses belajar berlangsung ia berperan ‘aktif”. Aktifnya Tauriq berbeda dari aktif peserta didik yang pintar pada umumnya. Aktifnya seorang Tauriq adalah aktif yang senang menjahili, mengganggu teman-temannya, berlari sana sini di dalam kelas. Namun ketika memang ada tugas yang diberikan oleh sang guru di depan papan tulis, ia diam untuk mngerjakan. Tapi itu hanya sesaat. Setelahnya ia akan ‘aktif’ kembali. Itu adalah peristiwa kecil Tauriq di aktivitas sekolahnya. Tidak beda jauh jika ia sedang bermain bersama teman-temannya. Pulang sekolah tanpa mengganti baju seragam dengan baju mainpun ia langsung bergegas bermain. Ketika bermain dengan teman-temannya Tauriq begitu senang dan akrab. Tapi ternyata ditemui juga sikap Tauriq yang suka menjahili temannya bahkan sampai si teman ini menangis dan si Tauriq dibalas, namun Tauriq bukan anak yang cengeng atau lemah.
Dalam fase ini, sosialisasi Tauriq belum cukup baik kerena ia masih berprilaku kasar terhadap teman-temanya yang di akibatkan cara didik orang tua yang kurang baik juga. Jika terus seperti ini, akan berepengaruh pula pada fase selanjutnya yaitu Fase Genital, Fase yang berlangsung pada usia 12 tahun atau usia dimulainya pubertas sampai dengan umur 18 tahun, dimana anak mulai menyukai lawan jenis dan melakukan hubungan percintaan lewat berpacaran. Dan pada masa ini pula seorang anak akan mulai melepas diri dari orangtuanya dan belajar bertanggung jawab akan dirinya.
Jika dalam fase laten tadi si Tauriq tidak tunas atau bisa dibilang kurang baik, pada fase yang selanjunya, fase genital akan banyak hambatan yang dialaminya. Seperti kepribadian yang kurang matang atau bahkan jondok menjadi pribadi yang benar-benar tidak baik.
Pada teori freud ini, seseorang tidak akan dapat melanjutkan atau melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya dengan baik, jika seseorang itu belum menyelesaikan tugas perkembangan yang sebelumnya. Karena ketika tugas perkembangan sebelumnya belum terselesaikan dengan baik, pasti pada menju atau saat melaksanakan tugas perkembangan selanjutnya akan ada banyak hambatan. Yang mungkin suatu sat nanti akan menjadi beban bagi seseorang itu.
Begitu pula dengan Tauriq, yang pada fase-fase perkembangannya belum baik. Itu akan sangat berpengaruh pada kepribadian dirinya kelak ketika ia dewasa.
Nb: Bahah UAS kelompok_Perkembangan anak usia SD














0 komentar:
Posting Komentar